Festival Dewi Gita, menjaga tradisi lintas generasi

Desa Giritirta merupakan salah satu desa yang terletak di wilayah kecamatan Pejawaran atau berada kurang lebih  33 kilometer di sebelah utara Kabupaten Banjarnegara. Untuk mencapai tempat ini dibutuhkan waktu tempuh kurang lebih 40 menit – 1 jam dari pusat kota Banjarnegara.

Apa yang menarik dari Desa Giritirta ini ?

Kata Giritirta berasal dari dua kata yaitu Giri (Gunung) dan Tirta (Air) sehingga sudah bisa ditebak bahwa desa di wilayah pegunungan ini sangat kaya akan air. Sebut saja Curug Merawu, Curug Genting, dan Dua Sumber Air Panas Debit Tinggi yang mengandung Belerang Kuning yang letaknya berdekatan satu sama lain. Selain itu desa

Giritirta memiliki kekayaan alam lain seperti Batu Lempeng, Batu Andesit, Tras (pasir lokal) dan lain sebagainya. Namun jumlahnya tidak begitu besar dan belum terkelola secara maksimal.

Desa Giritirta sebenarnya pada tahun 2015 sudah didapuk sebagai salah satu desa wisata di Kabupaten Banjarnegara. Akan tetapi pada pelaksanaannya managemen desa wisata disana masih membutuhkan banyak pembinaan dan pengawasan dari berbagai pihak sehingga bisa berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan sebelumnya.

Berbicara mengenai potensi wisata, selain potensi wisata air terjun yang ada di wilayah desa ini, Giritirta memiliki sebuah festival budaya yang sangat potensial untuk mendatangkan wisatawan berkunjung. Namanya festival Dewi Gita.

Festival desa yang digelar setiap tanggal 8 bulan Agustus ini sebenarnya merupakan acara ruwat desa biasa, namun dikemas sedemikian rupa sehingga unik dan menarik. Salah satu hal paling unik yaitu Jamasan Gaman atau Mencuci Senjata.

Senjata yang dimaksud adalah senjata yang digunakan untuk bertani, bukan senjata yang digunakan untuk berperang dan melukai orang  dan bukan juga alat alat lain yang berkaitan sama mistis seperti keris, tombak dan sebagainya denagn pertimbangan takut menjurus ke hal hal syirik.

Rangkaian prosesi Jamasan Gaman ini diawali dengan sambutan Kepala Desa, Mister M. Yusuf, yang menegaskan bahwa acara ini (mencuci alat pertanian secara bersama sama di bawah air terjun Genting) adalah sebuah simbol yang bertujuan untuk mengajak warga agar lebih guyub rukun, tulung tinulung, bangga serta mau merawat lokasi wisata seperti Curug Genting yang ada di desa mereka itu. Selain itu diharapkan bahwa warga masyarakat di kemudian hari ikut menjaga aliran sungai yang mengalir di sepanjang desa agar tidak mengalami kerusakan dan tercemar.


Pada kesempatan itu, Camat Pejawaran juga berkenan untuk ikut mencuci dan mengasah sebilah parang milik Mbah Bambang yang merupakan tokoh dan sesepuh desa. Dengan diikuti oleh warga masyarakat yang hadir di lokasi, beliau nyemplung ke kali dan mencuci gaman bersama sama. Dalam kesempatan itu beliau berpesan agar kegiatan semacam ini dilestarikan dan dilanjutkan di tahun tahun berikutnya sebagai magnet untuk menarik kunjungan wisatawan ke desa Giritirta, karena bagaimanapun Tradisi dan Lokasi untuk hal tersebut sudah sangat mendukung. Hanya tinggal pengembangannya saja.

Setelah selesai proses pencucian, acara selanjutnya adalah mengarak gaman tersebut menuju ke pusat kegiatan Festival Dewi Gita di lapangan sebelah balai desa. Dengan diiringi oleh tabuhan musik kentongan dan lenggak lenggok tarian para penari Dewi Gita, arak arakan itu berjalan kurang lebih 1 kilometer dengan disaksikan oleh ratusan warga yang berdiri membentuk pagar betis di sepanjang jalan desa.

Sesampai di lapangan, dilakukan acara serah terima dari rombongan pembawa tadi kepada pemuda desa sebagai perlambang sebuah harapan akan kontinuitas pertanian secara turun temurun di Desa Giritirta, dan sekaligus sebagai simbol ajakan para orang tua jepada generasi muda untuk tetap bercocok tanam.

Setelah rangkaian itu selesai barulah beragam kesenian tradisional dimulai. Ada Jepin, Kuda Lumping, Tari Dewi Gita sampai Organ Tunggal bergantian menghibur masyarakat sambil menunggu proses penjurian gunungan hasil bumi.

Sekitar jam 2 siang, penjurian gunungan hasil bumipun selesai. Dan dengan didahului bunyi Gong, massa yang hadir semuanya menyerbu ke arah gunungan. Saling berebut, saling sikut namun semuanya sambil tertawa bahagia. Karena mereka sadar bahwa pesta ini untuk mereka. Festival Dewi Gita ini tidak lain dan tidak bukan untuk masyarakat seluruhnya.

Author: arif al azis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.